API: Tolak Kenaikan Tarif Tenaga Listrik 2013

Mensikapi rencana pemerintah untuk menaikkan Tarif Tenaga Listrik (TTL) pada awal 2013, Asosiasi Perekstilan Indonesia (API) menyatakan sikap menolak rencana tersebut.  Beberapa pertimbangan yang menjadi landasan sikap tersebut.

(1) Semakin terpuruk daya saing Indonesia.  Berdasarkan analisa yang dilakukan oleh World Economic Forum (WEF) bahwa peringkat daya saing Indonesia tahun 2012 – 2013 turun dibandingkan dengan tahun 2011 – 2012.  Menurut laporan WEF terbaru menyatakan bahwa peringkat daya saing Indonesia berada di peringkat 50, jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan peringkat daya saing tahun 2011 – 2012 yang berada di peringkat 46.  Pada tahun 2010 – 2011, Indonesia sempat berada pada peringkat 42, namun dalam 2 tahun berturut-turut, peringkat Indonesia terus-menerus anjlok.

Dalam laporan tersebut, WEF menyebut bahwa skor sangat rendah yang dimiliki Indonesia antara lain dalam hal: (1) rendahnya inovasi, (2) ketersediaan teknologi, (3) infrastruktur, (4) in-efisiensi pasar tenaga kerja serta (5) kelembagaan. Masih dalam laporan yang sama WEF, mensinyalir ada 16 faktor utama yang merupakan masalah dalam melaksanakan usaha di Indonesia. Lima yang merupakan masalah paling besar menurut WEF yaitu:

  • In-efisiensi birokrasi pemerintah
  • Korupsi
  • Kurangnya infrastruktur
  • Buruknya etika kerja dari tenaga kerja lokal
  • Terlalu ketatnya aturan ketenagakerjaan

(2) Listrik merupakan faktor utama dalam proses produksi industri tekstil.  Bagi industri tekstil, listrik memiliki kontribusi yang sangat besar dalam struktur biaya produksi.  Bagi industri pembuatan serat, listrik (energi) memegang peranan 25% dari keseluruhan biaya produksi. Industri pemintalan peran listrik 18,5% dari keseluruhan biaya produksi, sedangkan bagi pertenunan sebesar 14,4%.  Hanya industri garment yang prosentasi listriknya kecil dalam struktur biaya produksi, yaitu hanya 1,3%.

Memperhatikan hal tersebut maka menaikkan harga TTL sudah pasti akan menaikkan biaya produksi yang pada akhirnya akan menaikkan harga jual produk.  Mengingat bahwa penggunaan listrik intesif terjadi di sektor hulu maka kenaikan harga listrik pasti akan memberikan multiflier effect cukup besar terhadap kenaikan harga jual produk jadi.

(3) Kinerja ekspor yang menurun.  Terjadinya penurunan permintaan secara global yang dibarengi dengan semakin ketatnya persaingan di pasar internasional mengakibatkan kinerja ekspor TPT Indonesia melemah.  Semester pertama 2012, ekspor TPT Indonesia turun sebesar 6,1%.  Penurunan terbesar terjadi di pasar Eropa sebesar 9,6%, sedangkan di pasar Amerika turun 0,8%.  Meskipun terjadi sedikit kenaikan di pasar Jepang, namun kenaikannya tidak lebih besar dari penurunan yang dialami di pasar tradisional lainnya.  Ironisnya, meskipun telah terjadi penurunan permintaan secara global, beberapa negara pesaing justru masih mampu menikmati kenaikan ekspor karena keunggulan komparatif yang mereka miliki. Misalnya di pasar Eropa, total impor negara-negara Eropa dari luar negara-negara Eropa turun 7,21%.  Namun beberapa negara seperti Bangladesh, Vietnam dan Kamboja malah mampu menikmati kenaikan ekspor.  Kenaikan ekspor TPT Kamboja ke Uni Eropa terhitung fantastis mencapai 41,9%.  Ekspor TPT Vietnam ke Eropa tahun ini telah mengalahkan posisi Indonesia.  Demikian pula halnya di pasar Amerika  Serikat.  Impor TPT Amerika periode Januari hingga Juli 2012 hanya naik 0,8% saja, namun beberapa negara pesaing seperti China, Vietnam dan Kamboja mampu meningkatkan ekspornya lebih dari 1%.

(4) Pangsa produk lokal yang terus menurun di pasar domestik. World Bank  mencatat bahwa pendapatan per kapita orang Indonesia telah meningkat 88% dalam 5 tahun terakhir.  Pendapatan per kapita pada tahun 2011 hampir dua kali lebih besar dibandingkan pendapatan pada tahun 2007.  Statistik tersebut juga didukung catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat berkurangnya jumlah orang miskin di Indonesia dari 16,6% pada tahun 2007 menjadi hanya 12,5% pada tahun 2011.  Hal tersebut merupakan indikasi bahwa semakin hari orang Indonesia semakin sejahtera. Namun sangat disayangkan, dalam konteks bisnis tekstil dan pakaian jadi, peningkatan kesejahteraan tersebut tidak memperlihatkan dampak berarti.  Peningkatan penjualan tekstil di pasar domestik hanya sekitar 10% saja per tahun.  Demikian pula dengan pasar produk lokal di pasar domestik tidak banyak mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Kecenderungannya malah terus menurun.  Jika pada tahun 2010 API mencatat bahwa pangsa industri dalam negeri di pasar domestik sudah mencapai 50%, tahun 2011 angka tersebut anjlok menjadi hanya 42% saja.  Tahun 2012, API memprediksikan bahwa angka tersebut tidak akan banyak beranjak dari kisaran 40%.

(5) Beranjak dari berbagai pemikiran tersebut maka, Asosiasi Pertekstilan Indonesia secara tegas MENOLAK rencana pemerintah untuk menaikkan tarif tenaga listrik pada tahun 2013.

(disampaikan dalam acara press converence tgl 21 sept 2013)

2 responses to “API: Tolak Kenaikan Tarif Tenaga Listrik 2013

    • karena PT.PLN untuk pembangkitnya masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jadinya mahal biaya pokok produksinya, makanya dia butuh subsidi dari APBN krn harga jualnya (atau tarif listriknya per kwh) ke konsumen lebih rendah dari biaya pokoknya…solusinya, untuk pembangkitnya PT.PLN memakai batubara atau gas, sehingga biaya produksinya murah dan ketika jual ke konsumennya juga murah dan tdk butuh subsidi dari APBN…masalahnya, batubara dan gas di ekspor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s