Kesiapan Sektor Riil Nasional Menghadapi Krisis Keuangan Di Amerika Serikat & Eropa

(press release tanggal 12 Oktober 2011). Seperti kita ketahui bersama bahwa telah terjadi krisis keuangan, baik di Amerika Serikat (AS) maupun di Eropa, sehingga suka tidak suka seluruh negara di dunia akan terseret ke dalam krisis tersebut. Karena, baik AS maupun Eropa termasuk negara yang paling besar ekonominya, sehingga jika gejolak keuangan di kedua benua tersebut memburuk, maka akan merembes ke seluruh keuangan dunia.Dan nampaknya, krisis keuangan di AS dan Eropa tersebut sudah memperlihatkan ke arah resesi ekonomi yang antara lain terlihat pada kelesuan di kegiatan perdagangan, menurun/berkurangnya produksi di industri, menimbulkan pengangguran, dan lainnya.

Lama atau pendeknya keberlangsungan resesi ini sangat bergantung dari penanganan ekonomi di kedua benua dimaksud. Begitu pula dengan Indonesia, yang pasti akan terpengaruh oleh resesi di AS dan Eropa, harus mengambil langkah-langkah ke arah pertahanan fundamental ekonomi nasional.

Dampak resesi ekonomi di AS dan Eropa, bukan saja mempengaruhi perekonomian Indonesia, tetapi juga negara-negara Asia, di sisi lain pertumbuhan di Asia diharapkan menjadi penyangga pertumbuhan dunia. Hal tersebut dikarenakan AS dan Eropa adalah termasuk dalam negara yang paling besar ekonominya di dunia, yaitu hampir menguasai lebih dari seperempat daya beli dunia. Sehingga manakala daya beli masyarakat di kedua benua tersebut menurun, maka banyak negara lainnya akan ikut menanggung dampaknya, dan ada kemungkinan akan membuat ekonomi dunia ikut resesi.

Bahkan untuk negara-negara di ASEAN, termasuk juga Indonesia, diperkirakan akan mengalami tekanan yang paling kuat pada tahun 2012 akibat perlambatan ekonomi yang terjadi di AS dan Eropa. Prosesnya akan terjadi melalui kegiatan ekspor dan impor dimana pasar AS dan Eropa merupakan dua pasar utama tujuan ekspor dari negara-negara di ASEAN. Sehingga, jika ekspor-impor AS dan Eropa merosot, maka ekspor-impor negara-negara ASEAN pun akan terganggu.

Dari perspektif tersebut diatas, apakah resesi ekonomi AS dan Eropa akan mengakibatkan dampak negatif yang luas bagi ekonomi Indonesia secara umum??, lalu bagaimana dengan industri manufaktur kita selanjutnya??

Dilihat dari posisi Indonesia, berdasarkan data perdagangannya, baik dengan AS maupun Eropa adalah sebagai negara pembeli barang ekspor Indonesia dan juga sebagai negara penjual kebutuhan impor Indonesia. Oleh karenanya sangat jelas bahwa resesi ekonomi di AS dan Eropa akan mengganggu ekonomi nasional atau akan berpengaruh luas terhadap ekonomi Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut, dibutuhkan kemampuan pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah-langkah pragmatis dan praktis, jika tidak ingin menurunnya perolehan devisa ekspor maupun berkurangnya kegiatan produksi sebagai akibat impor juga menurun.

Memang diakui, bahwa AS dan Eropa sedang berusaha keras mengatasi resesi ekonominya. Tetapi, pemerintah Indonesia pun juga harus proaktif dalam membuat antisipasinya. Dan langkah utama yang dibutuhkan oleh sektor riil nasional adalah peningkatan daya saing dalam produksi dan distribusi. Untuk meningkatkan daya saing di produksi dan distribusi tersebut, ada beberapa masalah yang perlu segera mendapatkan penanganan serius, karena krisis yang terjadi di AS dan Eropa tahun 2011 ini mempengaruhi negaranya, bukan konsumennya sebagaimana yang terjadi pada tahun 2008. Dan masalah-masalah untuk peningkatan daya saing dalam berproduksi dan distribus antara lain sebagai berikut :

Untuk permasalahan yang PERLU SEGERA DIDORONG/DIAKSELERASIKAN, adalah :

1. Internal dalam negeri.

  • Percepatan pembangunan perluasan pelabuhan dan jaringan transportasi, baik kereta api maupun jalan tol.
  • Percepatan pembenahan di pelabuhan, khususnya masalah tarif. a)Pelabuhan di Indonesia dikenal sebagai pelabuhan dengan biaya mahal, yaitu untuk 20 feet sebesar USD 95, sedangkan di Thailand USD 63, Vietnam USD 70, Malaysia USD 88. b)Transaksi pembayaran di pelabuhan menggunakan mata uang USD, bukan Rupiah. Sementara di negara-negara pesaing, transaksinya pelabuhan dilakukan menggunakan mata uang setempat/local currency. c)Banyak biaya tambahan di pelabuhan yang tidak jelas, seperti biaya penumpukan, biaya pemindahan lokasi penimbunan, toeslag, dan biaya lainnya yang akhirnya mereduksi daya saing. d)Transportasi dari dan ke pelabuhan pada kemacetan, jalanan yang rusak, dan masalah lainnya yang tidak efisien (cost, waktu, tenaga, pikiran).

2. Luar Negeri, yaitu mendorong/akselaris pembicaraan dan pembentukan Free Trade Agreement (FTA) secara bilateral dengan melibatkan asosiasi dalam pembahasannya.

  • Kemitraan ekonomi komperehensif Indonesia dengan European Free Trade Area (EFTA).
  • Indonesia dengan Uni Eropa.
  • Indonesia dengan Australia.
  • Sedangkan dengan Amerika Seriat (AS), diharapkan Indonesia menjadi anggota Trans Pacific Partnership (TPP)

3. Untuk permasalahan lainnya yang DITUNDA PEMBERLAKUANNYA, yaitu :

  • Tarif Dasar Listrik 2012.
  • RPP tentang Pengelolaan Sampah.
  • RPP tentang ASI.
  • RUU Fakir Miskin.
  • RUU Halal.

4. Untuk permasalahan lainnya yang SECEPATNYA DICARIKAN SOLUSINYA, yaitu :

  • Kebutuhan Gas Bumi Untuk Industri Dalam Negeri.
  • Kebijakan Moneter.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s