Pandangan Industri Manufaktur Nasional Atas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Kegiatan industri manufaktur umumnya dijadikan pembenaran atas terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Padahal dari kenyataannya kegiatan sektor industri inilah yang menghasilkan devisa dan memberikan lapangan pekerjaan. Atau dengan kata lain, sektor industri inilah yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional dalam usaha mengatasi 2 (dua) permasalahan utama bangsa Indonesia, kemiskinan dan pengangguran. Pada tahun 2010, total ekspor nasional senilai USD 157,8 milyar dan sebesar USD 129,7 milyar berasal dari non-oil & gas (industri manufaktur termasuk di dalamnya). Sementara dari total tenaga kerja nasional yang 108.207.767 pekerja, sebesar 12,8%nya bekerja pada industri manufaktur.

Disadari bahwa pengelolaan lingkungan hidup adalah hal yang sama pentingnya bagi keberlangsungan industri manufaktur nasional, terutama untuk perusahaan yang berorientasi ekspor. Karena perusahaan yang tanpa visi pelestarian lingkungan hidup tidak akan bertahan lama, sebab buyers/pembeli utama produk nasional (seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang) adalah negara-negara maju yang sangat memperhatikan aspek lingkungan hidup, bahkan aspek lingkungan hidup ini diperdagangan internasional masuk sebagai non-tariff barrier. Sedangkan di dalam negeri pun jika perusahaan tidak mempunyai visi pelestarian lingkungan hidup akan sulit bertahan, misalnya untuk mendapatkan kredit dari perbankan, pengelolaan lingkungan hidup merupakan salah satu persyaratannya.

Hingga saat ini memang diakui masih ada dari industri manufaktur dalam memproduksi barangnya (baik kualitas maupun kuantitas) untuk memenuhi tuntutan pasar belum memperhatikan secara optimal masalah pengelolaan lingkungan hidup, sehingga berbagai kasus pencemaran yang merugikan bermunculan. Hal ini disadari oleh pengusaha, akan tetapi seringkali 2 (dua) kepentingan tersebut  (yaitu  memenuhi  tuntutan pasar  dan  pengelolaan lingkungan hidup) datang dalam waktu bersamaan, sehingga timbul pilihan dimana salah satunya dikorbankan untuk mendapatkan yang lain.

Untuk 2 (dua) kepentingan tersebut, dalam ruang lingkup bangsa dan negara, disinilah seharusnya pemerintah mengambil peranan melalui kebijakan yang tepat sehingga dapat menyelaraskannya tanpa harus ada yang dikorbankan. Untuk mendapatkan kebijakan yang tepat bagi permasalahan ini, langkah pertama adalah harus bersama-sama (yaitu birokrasi, akademisi, aktifis lingkungan hidup, industri manufaktur/dunia usaha) menyadari bahwa untuk pengelolaan lingkungan hidup ini ada 2 (dua) kepentingan yang berbeda. Langkah selanjutnya adalah membuat sistim dan prosedur yang mewakili 2 (dua) kepentingan dimaksud, sehingga dengan sadar/tanpa paksaan peraturan yang sudah dibuat akan ditaati secara bersama.

Pandangan industri manufaktur atas pengelolaan lingkungan hidup, ada 2 (dua) pointers yang selama ini selalu menjadi masalah/hambatan yang tidak lain sebagai ketidakpastian dan ketidaksiapan pemerintah (dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup – KLH) dalam menyelaraskan kepentingan ekonomi dengan kepentingan pelestarian lingkungan hidup, adalah sebagai berikut:

Terkait dengan Substansial Isi. Dilatarbelakangi oleh program pemerintah mengenai penghematan atas penggunaan bahan bakar minyak (BBM) serta melihat besarnya subsidi pemerintah kepada PT. PLN melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), kalangan industri manufaktur nasional memikirkan alternatif sumber energi lain selain listrik dan BBM untuk pembangkit listriknya, yaitu dengan batubara atau gas. Namun disisi lain timbul masalah/hambatan dengan limbah batubaranya, yaitu dengan KLH dimana sulitnya mendapatkan izin untuk pengelolaan, baik secara sendiri-sendiri per-perusahaan maupun secara bersama. Padahal pengelolaan secara bersama antar perusahaan ini adalah solusi praktis untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Bahkan selain itu pula, perusahaan diwajibkan untuk mempunyai izin pemanfaatan dan izin pengangkutan. Sementara itu untuk gas, selain suplainya tidak ada kepastian, untuk harganya pun tidak jelas, dan industri selalu yang dirugikan.

Terkait dengan Struktural Kelembagaan. Maksudnya adalah masalah kewenangan dan tanggungjawab lembaga/institusinya serta prosedurnya manakala timbul permasalahan mengenai pengelolaan lingkungan hidup. Karena selama ini pada saat pelaksanaan lapangan termasuk pengontrolannya tidak ada kejelasan, sehingga seringkali pihak perusahaan harus berhadapan dengan berbagai pihak, seperti dari KLH sendiri, Balai Besar Karantina Tumbuhan (BBKT) Departemen Pertanian, Pemerintah Daerah, Kepolisian Daerah. Padahal untuk kewenangan, tanggungjawab, prosedur, dan lain sebagainya sudah jelas diatur dalam UU No. 23/1997 dengan peraturan pelaksananya Kepmen LH No. 13/1994, Kepmen LH No. 15/1994, dan Kepka BAPEDAL No. Kep-105/1997, akan tetapi pada saat aplikasinya timbul kejanggalan yang akhirnya menjadi beban karena menambah rantai cost produksi bagi industri manufaktur nasional.

Pandangan dari industri manufaktur ini tidak lain adalah adalah sekelumit masalah/hambatan yang selalu dihadapi dan ini akan terus menjadi beban jika tidak segera diambil langkah strategis. Mengingat masalah/hambatan tersebut merupakan pekerjaan rumah kita bersama. Oleh sebab itu dalam mengambil langkah penyelesaiannya perlu melibatkan berbagai stakeholders seperti birokrasi, akademisi, aktifis lingkungan hidup, dunia usaha (industri manufaktur) dan termasuk lembaga legislatif didalamnya. Karena lembaga legislatiflah nantinya yang bisa menelurkan peraturan-peraturan yang berwawasan lingkungan sekaligus mewakili kepentingan kegiatan ekonomi nasional. Sehingga dengan adanya kesadaran bersama, diharapkan pengelolaan lingkungan hidup dan kegiatan industri manufaktur nasional akan terus berjalan secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s