Kajian Singkat: Global Warming & Posisi Indonesia

UNCCC

Tentunya semua mahluk hidup yang berakal di Bumi ini sepakat atas pemahaman untuk kebaikan bersama, bahwa sumber daya alam yang dimiliki oleh setiap negara dapat digunakan oleh/untuk kepentingan/keuntungan rakyatnya dan penggunaan sumber daya alam tersebut tentunya juga tidak boleh membahayakan/merugikan negara lainnnya.

Sekarang, ternyata kesepakatan atas pemahaman tentang kebaikan bersama terhadap penggunaan/pemanfaatan sumber daya alam menjadi masalah, baik negara maju maupun negara berkembang di Bumi ini, karena dampak/efek atas penggunaan bahan bakar minyak, batu bara, dan gas, terhadap lingkungan hidup global. Isu inilah yang di bahas di Bali pada akhir tahun 2007 oleh United Nation Climate Change dengan topik/temanya adalah Global Warming atau Pemanasan Global yang dampaknya sangat mengerikan dan secara berurutan sebagai berikut: (a) tingkat temperatur di Bumi memanas sekitar 0,6 derajat celcius; (b) gletser dan es di kutub Bumi meleleh; (c) ketinggian air laut meningkat antara 10 sampai dengan 20 cm setiap tahunnya; (d) terjadi banjir diserta hujan lebat dan angin siklon; (e) badai tropis serta kemarau/gelombang panas yang panjang.

Posisi Indonesia dalam menghadapi masalah pemanasan global, secara mendasar ada 2 permasalahan yang sebelumnya sangat perlu untuk dipahami dan dikaji secara nasional, yaitu:

  1. Dampak dari pemanasan global, sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, penyebabnya bukan hanya dari negara berkembang, termasuk Indonesia, bahkan mungkin sebagian besar disebabkan oleh perbuatan negara maju pada masa lalu. Sehingga tidak adil kalau negara berkembang mempunyai kewajiban untuk melakukan pemulihan atas kesalahan yang tidak dilakukan. Oleh sebab itu, maksud dari pemahaman dan pengkajian secara nasional adalah:
    • sampai sejauhmana telah terjadi pemanasan global yang diakibatkan oleh Indonesia. Hal ini terkait dengan besaran tanggungjawab yang dibebankan, karena yang menjadi objek pemulihannnya adalah bukan barang dagangan yang dapat diperjual-belikan;
    • jika nantinya Indonesia berpartisipasi turut serta mengatasi ancaman pemanasan global dan melakukan pemulihan sebaiknya sudah mempunyai standard dan bentuk dalam kerjasamanya dengan maksud agar tidak dimanfaatkan atau hanya sebagai alat saja atau hanya supporting saja. Sehingga nantinya komunikasi dan hubungan kerja dapat berjalan lancar;
    • dalam operasional pelaksanaannya, masyarakat adat setempat wajib diikutsertakan dan mempunyai posisi minimal setara, jangan sampai lagi terulang sebagaimana yang terjadi pada program-program penangkaran untuk hewan-hewan yang hampir punah.
  2. Terkait dengan industrialisasi, termasuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT), yang menggunakan pembangkit listriknya dengan bahan bakar minyak, batu bara, gas, sangat perlu untuk dilakukan penelitian yang spesifik, dengan maksud:
    • untuk mengetahui seberapa besar (dalam %) pemanasan global yang diakibatkan oleh industri-industri Indonesia. Hal ini terkait agar tidak terjadi pertentangan pelaksanaan antara program pemerintah untuk peningkatan 10 sektor komoditas unggulan dengan industri manufakturnya yang untuk melaksanakan program pemerintah tersebut salah satunya adalah dengan pembangkit listriknya menggunakan batu bara dan gas;
    • dalam rangka daya saing produk industri nasional, baik di pasar dalam negeri dan regional maupun internasional, salah satu faktornya adalah energi (bahan bakar minyak dan batu bara). Mungkin saja ada pihak-pihak tertentu yang merasa tersaingi sehingga melakukan tindakan dengan alasan pemanasan global;
    • jika memang industri manufaktur nasional diarahkan untuk menggunakan energi terbarukan seperti matahari, angin, panas bumi, biomasa dari tanaman, dan lainnya, masalahnya adalah apakah industri-industri tersebut sudah siap, dalam arti teknologinya?, biayanya?, tenaga akhlinya?, lalu bagaimana dengan keuntungan produksi yang didapat?, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya yang pada tahap akhirnya sampai pada pertanyaan bagaimana nasib dengan bahan bakar minyak, batu bara, dan gas tersebut?, yang kesemuanya itu sekarang ini saja sebagian besar sudah dikuasai asing atau pemanfaatannya lebih banyak di ekspor?. 

Ikhtisar atau inti yang dapat diambil dari perspektif diatas, bahwa fakta-fakta yang mengakibatkan terjadinya perubahan iklim/cuaca yang ekstrim (seperti: ketinggian air laut meningkat, banjir disertai hujan lebat, badai tropis dan gelombang panas, dan lain sebagaimana yang telah diuraikan diatas sebelumnya) ditahun-tahun belakangan ini memang hampir tidak terbantahkan. Bahkan dapat dipastikan semuanya itu dipercayai adalah sebagai hasil dari aktivitas manusia di Bumi ini yang menggunakan bahan bakar minyak sebesar 80% dan melakukan penggundulan hutan seluas 20%. Namun untuk kepastian penyebabnya adalah karena Pemanasan Global atau Global Warming sangat perlu ada pengkajian lebih dalam lagi. Mungkin saja hal tersebut terjadi sebagai “Siklus Alam”.

Posisi Indonesia, sebagai bagian dari komunitas internasional, memang wajib turut serta mengatasi ancaman pemanasan global. Namun sangatlah penting bagi pemerintah Indonesia untuk berhati-hati ketika memutuskan untuk berpartisipasi atas masalah Global Warming atau Pemanasan Global. Hal ini terkait dengan keadaan ekonomi Indonesia yang hingga kini saja belum stabil dan masih banyak memerlukan berbagai perbaikan pada kebijakan ekonominya, khususnya untuk kesejahteraan rakyat yang salah satunya adalah melalui industrialisasi. Oleh sebab itu, kewaspadaan pemerintah Indonesia diperlukan, karena yang menjadi taruhannya adalah Kedaulatan Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat. (end)

10 responses to “Kajian Singkat: Global Warming & Posisi Indonesia

  1. Inov🙂 Bacaan yang bagus neh buat iput :p

  2. terimakasih…..

  3. banyak juga nih yang bisa kudapat utk bahan-bahan buat skripsi. trim ya

  4. Gini ya mas… menurut pandangan saya, yang lebih melihat dari segi kepentingan, maka pro kontra nya bukan antara negara maju dan negara berkembang seperti yang mas sebutkan, namun lebih kepada negara kepulauan, seperti indonesia maupun negara pantai, kontra negara daratan tinggi. Karena ada sebagian negara maju yang landscapenya rendah seperti inggris atau belanda. Mengapa saya memilahnya seperti ini? karena akibat utama dari pemanasan global adalah naiknya permukaan laut, yang berakibat pada berkurangnya daratan. Semisal Indonesia, jika batas terluar pulau Indonesia tenggelam, Sebagai negara kepulauan yang memiliki garis batas wilayah yang diukur dari pulau yang terluar, dapat berkurang secara signifikan jika pulau yang terluar yang tidak tenggelam semisal 75 km dari pulau yang tenggelam, maka penarikan batas wilayah akan menjorok kedalam. Jarak antara pulau yang tenggelam tadi dengan pulau terjauh dari indonesia akan menjadi laut lepas (mungkin siy,hee) tergantung situasi petanya juga, susah njelasinnya.. dong ya… moga aja deh…
    Jika kita memilahnya antara negara maju dan berkembang, anda akan kesulitan menganalisa mengapa ada negara maju yang sangat mendukung pencegahan pemanasan global, sedangkan negara maju lainnya sama sekali tidak berminat. Namun jika kita memilahnya seperti apa yang saya utarakan, maka analisa yang didapat akan lebih kuat, karena setiap negara akan bergerak mengikuti kepentingannya, disini kepentingan yang dimaksud adalah kepentingan mempertahankan wilayah.
    semoga berguna…klo salah ya maap… salam kenal..

  5. salam kenal juga mbak,
    terimakasih atas tambahan wawasannya mengenai pemanasan global yang saat ini menjadi isu global.
    adapun yang menjadi dasar penulisan ini adalah masalah pengurangan atau pembatasan pemakaian energi (bahan bakar minyak, batubara, gas) untuk mendukung industrialisasi karena dapat menimbulkan polusi yang membahayakan sistem iklim di bumi. ini bukan berarti industri di negara-negara berkembang tidak wajib melakukan pengurangan atau pembatasan atas pemakaian energi, mereka wajib sepanjang sejalan dengan kepentingan ekonominya.
    sedangkan pada konteks pemanasan global, seharusnya pengurangan atau pembatasan pemakaian energi bergantung pada kesukarelaan sebagai dasar untuk mewujudkan pemakaian energi yang lebih efisien atau mencari akternatif pengganti energi. dan tentunya industri di negara-negara berkembang untuk saat ini lebih memilih pemakaian energi yang efisien dengan alasan klasik, biaya. akan tetapi yang jadi permasalahan adalah pengurangan atau pembatasan pemakaian energi tersebut oleh negara maju dikaitkan dengan perdagangan. maksudnya apabila negara-negara berkembang tidak melakukan sesuatu atas pemakaian energi, maka negara maju akan memberikan sanksi, dan sanksi perdagangan ini dijadikan alat yang efektif untuk pemaksaan-termasuk tindakan keras jika menolak untuk bekerjasama. padahal untuk perdagangan internasional yang adil telah ada aturannya di WTO, kenyataannya WTO tidak dapat bertindak sendiri.
    bagi industri manufaktur Indonesia yang hingga kini banyak yang memakai bahan bakar minyak, batubara, gas dalam kaitannya dengan efek pemanasan global, apakah sudah siap untuk memakai energi terbarukan? atau memang kita diarahkan untuk memakai energi terbarukan, sementara bahan bakar minyak, batubara, gas yang kepemilikannya tidak jelas di ekspor……

  6. hoho… saya setuju mas… Penyumbang polusi saat ini kan yang terbesar tetep dari negara maju kan? nah, klo negara maju pake energi yang terbarukan, otomatis biaya produksi meningkat to, nah, sementara kita yang negara berkembang sebenarnya wajar dong klo masi pake fossil, negara maju aja masi pake, kebijakan pemerintah biasanya bergerak berdasarkan kepentingan, dimana mencari low cost production tentunya. nah WTO menurut saya justru membantu negara maju, agar cost production negara maju – berkembang tidak berbeda jauh, seperti adanya standarisasi produk. produk kita yang dikenal murah karena memang biaya produksinya murah harus meningkatkan standar, seperti produk yang tidak merusak lingkungan misalnya,peningkatan standar ini memang baik bagi lingkungan, tapi posisi tawar kita, dengan low-cost production nya akan hilang, persaingan jadi semakin sulit. dilema kan?… namun kata mas tadi”kesadaran/ kesukarelaan” memang perlu digenjot, dilingkungan saya, orang kayak mas ini disebut epistemic comunity, komunitas yang terus-menerus menawarkan ide kepada pemerintah untuk mengambil kebijakan yang tidak selalu berdasarkan kepentingan, namun ide. jangan putus asa, saya mendukung..

  7. untuk catatan: yang kita bicarakan seputar tekstil dan produk tekstil ya…….saya rasa kalau untuk daya saing produk dengan fair business kita tidak kalah, masalahnya yang kita hadapi suatu perusahaan yang di full support oleh pemerintahnya, seperti China, India, Vietnam, dll.
    untuk murah atau mahal suatu produk tergantung internalnya, maksudnya iklim usaha di dalam negerinya khususnya pada energi dan transportasinya
    oleh sebab itu untuk permasalahan seperti daya saing, iklim usaha, dan lainnya, kita sebagai generasi penerus di republik yang kita cintai ini wajib menyampaikan idee/usulan/masukan kepada pemerintah dan tidak ada istilah putus asa……

  8. wah.. pak inov semakin kaya wawasan dan bijaksana.
    Maju terus pak !

  9. huhhh saya pusing . apa ya hub nya global warming sama nasionalisme bangsa . pusing saya mikir nya .

    • simple aja kok…saat ini hampir sebagian besar industri Indonesia utk energi pembangkit listriknya menggunakan bahan bakar minyak, batubara, gas. padahal energi-energi tsb diperkirakan (?, krn belum ada kepastian) salah satu penyebab terjadinya pemanasan global…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s