Respon Pengusaha Atas Berbagai Tuntutan Pekerja

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional merupakan salah satu industri yang penting dalam perekonomian Indonesia. Sektor industri TPT ini selama hampir satu setengah dasawarsa menjadi mesin pencetak devisa yang sangat penting. Dalam lima tahun terakhir ini, industri TPT nasional mencetak rata-rata hampir USD 7,9 miliar dengan netto ekspor (ekspor dikurangi impor) sebesar USD 6,2 miliar. Ditambah lagi dengan nilai investasinya yang rata-rata senilai Rp. 132,3 trilyun. Sedangkan dalam bidang ketenagakerjaan, khususnya untuk angkatan kerja baru dan keterbatasan lapangan kerja yang menjadi masalah sosial dan ekonomi bagi Republik ini, peran industri TPT nasional adalah sebagai social safetynet yang terlihat dari penyerapan atas tenaga kerja yang rata-rata sebanyak 1,2 juta jiwa pekerja.

Disamping menjadi mesin pencetak devisa dan penyerap tenaga kerja, industri TPT Indonesia memiliki struktur industri yang lengkap, vertikal dan terintegrasi. Mulai dari hulu sampai hilir (upstream, midstream, dan downstream) atau mulai dari sektor industri PTA/MEG sampai sektor industri garment. Dengan struktur yang lengkap, vertikal dan terintegrasi, menjadikan kinerja industri TPT Indonesia memiliki kompetensi sebagai industri yang kuat dengan kemampuan daya saing global.

Dari perspektif tersebut diatas, uraian dibawah ini merupakan response atau tanggapan pengusaha atas berbagai tututan pekerja industri TPT nasional, atau paling tidak dapat dijadikan materi dialog seluruh komponen bangsa ini terhadap masalah ketenagakerjaan (baca: angkatan kerja baru dan keterbatasan lapangan kerja), sebagai berikut:

  1. Industri TPT adalah sektor industri yang memiliki karakteristik unik. Dalam pengertian, sektor industri TPT ini terbagi dalam 3 sub-sektor, yaitu: industri hulu (upstream industry) yang bersifat sangat padat modal (highly capital intensive) dan berskala besar yaitu industri serat sintetis; sub-sektor antara (midstream industry ) yang bersifat semi padat modal (moderately labour intensive) dan berskala besar, yaitu industri spinning dan weaving; dan industri hilir yang sangat padat karya (highly-labour intensive), yaitu industri pakain jadi (garment).

  2. Secara matematis, industri TPT saat ini menampung sekitar 1,2 juta pekerja. Namun kenyataannya jumlah yang menggantungkan hidupnya pada industri ini jauh lebih banyak, mungkin dua kali lipat dari mereka yang bekerja, manakala kita menghitung pula keluarga pekerja yang harus ditanggung.

  3. Munculnya berbagai tuntutan peningkatan kesejahteraan merupakan suatu yang wajar yang selayaknya diperoleh pekerja. Memang diakui bahwa tingkat kesejahteraan pekerja (bukan hanya upah) masih harus ditingkatkan secara terus-menerus, baik kesejahteraan ekonomis maupun kesejahteraan non-ekonomis, seperti hak-hak berorganisasi dan lain-lain yang sesuai dengan ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Namun yang menjadi permasalahannya adalah:

    • Tidak kondusifnya lingkungan makro yang kurang mendukung berkembangnya industri dan perdagangan TPT nasional. Diluar krisis ekonomi yang dampaknya sangat berat, ada beberapa hal yang tidak mendukung, misalnya koordinasi antar birokrasi yang tidak efesien yang menimbulkan ekonomi biaya tinggi; skill dan produktivitas pekerja yang tidak optimal; lemahnya industri pendukung (seperti: jasa, keuangan, transportasi); dan lain sebagainya yang tahap akhirnya mengakibatkan terjadinya penurunan daya saing produk TPT nasional yang sangat tajam baik di pasar lokal, regional, maupun di pasar dunia.

  4. Apapun faktor penyebab penurunan daya kompetitif TPT, yang pasti saat ini kondisi iklim usaha dalam negeri tidak positif. Dan kondisi ini menghadirkan situasi yang sangat dilematis bagi kalangan pengusaha pertekstilan Indonesia. Disatu sisi dituntut untuk terus meningkatkan kesejahteraan pekerjanya, sementara pada sisi lain, kondisi iklim usaha tidak mendukung untuk merealisasikan tuntutan pekerja tersebut.

    • Kalau kondisi dan perkembangan yang negatif bagi industri dan perdagangan TPT ini tidak ditanggapi secara bersama, maka dikhawatirkan bukan saja tidak bisa merespon berbagai tuntutan pekerja yang masih dalam koridor dapat diakomodir dan dinegosiasikan. Tapi lebih dari itu, yaitu mampukah nantinya industri dan perdagangan TPT ini survive? dan (minimal) dapatkah mempertahankan pekerja yang ada? atau bahkan dapat menyerap lebih banyak lagi pengangguran?

3 responses to “Respon Pengusaha Atas Berbagai Tuntutan Pekerja

  1. Soal Kesejahteraan mengapa para pemilik perusahaan bersedia membayar para expatriat jauh lebih mahal dari tenaga ahli dalam negeri padahal di lapangan keahliannyapun biasa-biasa saja.
    Jika industri tekstil gak mampu menghargai tenaga kerja dalam negeri yang udah terbukti kompeten senilai dengan para expatriat itu mungkin gejolak peerja akan terus terjadi. Akhirnya tekstil Indonesia Runtuh/tersisih karena pekerjanya sendiri bukan karena faktor ekonomi

  2. Ada beberapa expart yang memang sangat competent dan dibutuhkan karena jaringan marketingnya, dan ada juga karena pengalamannya di bidang produksi. Saya rasa pantas dibayar mahal. Tapi untuk level2 dibawah nya mestinya sdh bisa ditangani lokal

  3. to : Bu Noor Fitrihana
    Penilaian terhadap mahal-murah, ahli atau biasa saja, kompeten atau tidak dan sejenisnya tentu tidak bisa serta merta dinilai secara subyektif saja, namun perlu study dan pengkajian yang mendalam sehingga dapat tercapai kesimpulan obyektif bahwa pengusaha menganakemaskan ekspat atau memang ekspat lebih kompeten secara komprehensif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s