Konsolidasi Stakeholders Pertekstilan Nasional

5b6208-swaths.jpg 

Proses industrialisasi sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan strategi pemerintah yang digunakan, termasuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Peran pemerintah bukan lagi intervensi ataupun sebagai pelaku, tetapi berperan secara tidak langsung untuk terciptanya iklim bisnis yang fair (fair business environment) dan bukan seperti:

  1. Kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia yang menerbitkan produk SBI, SUN, dan obligasi lainnya yang mengakibatkan sektor perbankan lebih memilih pengalokasi dananya pada produk tersebut, karena menguntungkan dan tidak berisiko. Sehingga ketertarikan untuk menyalurkan dananya ke sektor riil tidak ada, dan kalaupun ada akan dikompensasikan dengan bunga yang tinggi dengan standar bandingan SBI, SUN, dan obligasi pemerintah lainnya (fixed rate interest, zero risk);

  2. Kebijakan tambahan PT. PLN, yaitu program Multiguna-nya dimana tarif dasar listrik menjadi berlipat ganda dan program Dayamaks-nya yang membatasi perusahaan untuk berproduksi pada waktu peakhours, serta mekanisme B to B dari PT. PLN mengakibatkan industri terhambat untuk ekspansi;

  3. Dibidang ketenagakerjaan dimana ketentuannya hanya mengatur sistem pengupahan, lembur, PHK dan lain sebagainya, sementara untuk sumber daya manusianya dalam hal faktor peningkatan skill dan produktifitas kerja tidak dimuat didalamnya;

  4. Dibidang infrastruktur, yaitu pengelolaan pelabuhan dan sistem transportasi darat sebagai salah satu faktor yang mengakibatkan daya saing menurun. Penyebabnya, selain mahalnya biaya pengelolaan di pelabuhan serta proses pelayanannya memakan waktu yang lama, masalah lainnya adalah adanya tambahan waktu dan cost delivery dikarenakan pelabuhan di Indonesia hanya pelabuhan feeder. Sedangkan pada sistem transportasi darat lebih banyak ke masalah pengaturan lalu-lintas dari pelabuhan ke sentra-sentra industri TPT;

  5. Penanganan masalah pasar dalam negeri atas import illegal dan peredaran produk-produk illegal tersebut yang hingga saat belum ada sistem koordinasi antar departemen, sehingga mengakibatkan para petugas dari departemen terkait tidak optimal dalam hal pencegahan masuknya produk-produk TPT yang illegal tersebut di pasar dalam negeri.

Sementara itu, pelaku industri TPT nasional dalam kondisi diliputi berbagai permasalahan sebagaimana dijelaskan diatas, jangan lagi menunggu tetapi lebih baik mengambil sikap untuk melakukan proses penyesuaian kembali, antara lain seperti proses penyesuaian pada manajemen perusahaannya (baik organisasinya, sistem dan prosedur, rencana bisnis, maupun sumber daya manusianya). Sehingga nantinya pada saat ada jawaban/solusi atas permasalahan yang dihadapi, dapat langsung terealisasi dalam pelaksanaannya. Karena untuk menerapkan pelaksanaannya bagaimanapun juga membutuhkan waktu dan bukan hanya sekedar sistem, bahkan mungkin jauh lebih rumit dan kompleks, dan biasanya kesulitannya justru timbul dalam budaya kerja dari stakeholders pertekstilan itu sendiri.

Dengan banyaknya masalah yang dihadapi industri TPT nasional sebagaimana dijelaskan di atas, perlu suatu tahapan konsolidasi penanganan dari semua stakeholders pertekstilan dengan harapan mampu memicu pertumbuhan kinerja industri TPT nasional sehingga dapat meningkatkan daya saing produknya. Konsolidasi penanganan tersebut dapat terwujud bukan hanya karena berhasil menginventarisir permasalahan dan mencarikan solusinya, tetapi yang lebih penting adalah kemampuan untuk mengimplementasikannya sehingga dapat merangsang pertumbuhan industri ini secara keseluruhan, dalam arti kinerja industri ini dapat tumbuh karena didorong oleh faktor internal dan eksternal.

Melaksanakan konsolidasi sekaligus pertumbuhan secara bersamaan dengan hasil yang optimal memang bukan hal yang mudah, apalagi menyelaraskan kedua-duanya agar berjalan seiring dan seirama, dapat dipastikan banyak kendala dan hambatan yang akan dihadapi. Pertanyaannya sekarang, apakah stakeholders pertekstilan dapat melakukan konsolidasi yang sekaligus memicu pertumbuhan bagi industri TPT nasional…? Jawabannya tentu saja bisa dan tidak perlu pesimistis, karena semua permasalahan yang dihadapi  industri ini berikut solusinya sudah jelas, sudah terukur, dan lingkungan eksternalnyapun mendukung. Tinggal persoalannya, bagaimana mengemas penanganannya oleh stakeholders pertekstilan secara kolektivitas dan kebersamaan. Disinilah diperlukannya konsolidasi stakeholders pertekstilan agar nantinya tujuan yang dikerjakan sangat jelas dan terukur, yaitu memicu pertumbuhan kinerja industri TPT nasional dan sekaligus meningkatkan daya saing produknya. (end)

(foto diambil dari : www.narmadatextiles.com)

6 responses to “Konsolidasi Stakeholders Pertekstilan Nasional

  1. Point 4 tentang ketenaga kerjaan, lihat undang undang nomor 13 pasal 9 hingga pasal 32 yo. PP 31 tahun 2006 tentang Sislatkernas anda akan tahu bahwa peningkatan kualitas ketrampilan tanggung jawab pengusaha, sedangkan utk rekruitmen TK banyak pengusaha yang mengabaikan aspek Kompetensi kerja, maunya naker dengan upah standard tetapoi memiliki multi kompetensi, waah ini nggak mbantu meningkatkan kualitas SDM, ikuti pola United Tractor yang melakukan perekruitan TK langsung ke pusat pusat latihan kerja berbasis kompetensi!!!!

  2. Idealnya adalah tanggungjawab perusahaan untuk menjadikan pekerjanya yang terampil dan terlatih, namun untuk menjadi manusia yang berpendidikan merupakan tanggungjawab pemerintah.

    Masalahnya, apakah perusahaan Usaha Kecil Menengah (UKM) akan mampu untuk melaksakannya?. Untuk perusahaan besar tidak masalah karena disesuaikan dengan situasi dan kondisinya, contohnya anggota API sudah ada yang melaksanakan, bahkan mempunyai tempat diklat sendiri.

    Mungkin untuk perusahaan UKM dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan Balai Latihan Kerja (BLK) yang dimiliki oleh pemerintah, yang dalam hal ini Dep. Tenaga Kerja.

  3. Jangan jangan pelaku import illegal juga orang-orang seputar tpt juga (maaf lho) karena biaya produksi dalam negeri costnya tinggi mending import aja dan masyarakat juga senang yang murah karnea daya belinya juga cuman segitunya. Katanya seh para pelaku TPT neh masih bermental pedagang ambil sana jual sini yang penting cepat dapat untung gak usah repot mikir produksi dan pengembangan produk apalagi program peningkatan SDM lha disini pengangguran melimpah jadi keluar satu tumbuh seribu, kalo mau kubayar sekian jika tidak yang laen maseh pada ngantre (terutama di industri padat karya)

  4. Untuk masalah impor ilegal di Indonesia, sebenarnya sistemnya sudah ada, aturannya sudah ada dan begitu pula dengan aparatnya. Namun masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah uang dan manusianya. Untuk itu diperlukan koordinasi antara pemerintah dan swasta, dan koordinasi disini adalah antara yang satu dengan yang lain saling mengisi, saling menginformasikan, saling membantu, saling mengawasi.

  5. Bicara tentang produktivitas SDM dan kerja sama stake holders, selama ini belum ada jalinan yang ‘mesra’ antar Perguruan Tinggi dan pihak industri, khususnya untuk kawasan jawa bagian timur.
    Padahal out put PT adalah TK yang mestinya siap pakai. API dalam hal ini bisa loh menjembatani ‘perkawinan’ dua kubu tersebut. Menurut saya akan sangat indah jika kekompakan itu dijalin dengan misalnya mendirikan pusat pelatihan terpadu yang bertempat di PT sehingga terjadi juga sinkronisasi antara dunia industri dengan dunia PT yang pada ujungnya mampu menciptakan SDM yang berkualitas. Tentang bentuk programnya seperti apa itu kan bisa dibicarakan bersama. Tolong jika API punya acara yang mempertemukan para stake holder terkait, kami dari dunia pendidikan akan sangat senang jika diundang dan dapat berdiskusi bersama.

  6. Baik, kami akan undang dan untuk itu mohon saya diberikan alamat serta telp/faks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s