Peningkatan Daya Saing Produk

Fenomena akses pasar kini semakin tidak menentu, mulai dari trend permintaan yang cepat berubah hingga prilaku konsumen yang selalu berbeda, sehingga semakin sulit diprediksi. Sementara pasar menuntut harga yang kompetitif, high quality, dan on time delivery dengan leadtime yang makin pendek. Ditambah lagi dengan persaingan yang semakin ketat dan makin tajam dengan konsekuensinya pada harga yang harus kompetitif. Dan persaingan tersebut terjadi bukan saja antarsesama negara berkembang, tetapi juga antara negara berkembang dengan negara-negara maju dan negara-negara industri baru. Dan keadaan ini dapat dipastikan akan terus berlangsung sebagai dampak perkembangan dan perubahan tata perdagangan dunia sampai pada titik equilibriumnya. 

Bagi industri manufaktur Indonesia, termasuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT), perubahan drastis tata perdagangan dunia yang diwarnai dengan ketidakpastian dan ditambah lagi dengan iklim usaha dalam negeri yang tidak kondusif, merupakan suatu kenyataan dan harus dihadapi. Misalnya rintangan non-tariff seperti ecollabeling, standarisasi produk, berbagai macam compliance social dan security, perburuhan yang dikaitkan dengan hak asasi manusia, situasi dan kondisi dalam negeri yang tidak mendukung seperti: kebijakan fiskal; kebijakan moneter; koordinasi antar departemen; kebijakan ketenagakerjaan, dan lainnya yang pada dasarnya adalah merupakan rintangan dan hambatan.  

Banyaknya rintangan yang menghadang dan hambatan yang harus dihadapi, perlu dicarikan jalan keluarnya dan untuk saat ini solusinya adalah dengan meningkatkan daya saing produk yang lebih solid dengan melihat potensi kekuatan dalam negeri.  

Peningkatan daya saing ini harus dilakukan secara serentak dan kolektif, tidak hanya dalam proses produksi yang terintegrasi mulai dari hulu sampai dengan hilir, akan tetapi daya dukung yang kompetitif untuk mendukung seluruh kumpulan proses kegiatan secara bersamaan, yaitu mulai dari proses produksi sampai dengan proses pendistribusian, termasuk evolusi dari proses kegiatan tersebut dalam satu mata-rantai yang melibatkan sarana dan prasarana pendukung untuk kelancaran proses kegiatan tersebut, yang antara lain seperti pengadaan komponen dan material, pengurusan perizinan/legalisasi, transportasi dan pengapalan, dan lain sebagainya yang kesemuanya itu dapat memberikan kontribusi terhadap terciptanya daya saing produk yang kompetitif dengan prinsip saling berhubungan, saling memiliki affinity (persamaan/pertalian), dan saling reliance (yang menguntungkan).  

Peningkatan daya saing produk yang dilakukan melalui proses integrasi tersebut dapat terlaksana dengan menggunakan konsep kawasan industri terpadu. Kawasan industri terpadu ini diartikan sebagai pengelompokan perusahaan-perusahaan yang meliputi berbagai jenis industri yang membentuk kerjasama dalam bentuk perdagangan intra industri di dalam satu daerah/wilayah tertentu yang dikhususkan untuk suatu tujuan bersama. Perdagangan intra industri dalam kawasan industri terpadu ini lebih efektif dan efisien serta secara financial tidak akan menambah cost, karena dilakukan secara dinamis antara beberapa pelaku usaha yang saling menunjang dan saling berkoordinasi satu sama lainnya. Disamping itu pula, dalam proses kegiatanya dikerjakan/dilakukan oleh beberapa spesialis yang ahli dalam bidang/bagian/sub-sub proses produksi, sehingga hal ini memberikan akselerasi yang tinggi terhadap produktivitas dan kinerja masing-masing perusahaan.

 

11 responses to “Peningkatan Daya Saing Produk

  1. Good point, I think we all agree that the competitive advantage must be supported by all industrial element of TPT industry. I hope this article become an inspiration for people in TPT business.

  2. Daya saing juga perlu dengan mengembangkan brand sendiri kita jangan hanya jadi tukang produksi dan tukang jahit saja. Bayangkan kita dituntut buyer memproduksi dengan murah tapi setelah mereka kasih label masyarakat kita disuruh beli dengan harga tinggi.

  3. “Daya saing juga perlu dengan mengembangkan brand sendiri kita jangan hanya jadi tukang produksi dan tukang jahit saja”

    Sepakat dengan Ibu Noor Fitrihana !

  4. Bersaing, good, tapi bagaimana dengan kualitas tenagakerjanya yang umumnya tidak memiliki kompetensi, sementara upah minta yang layak dibandingkan dengan kualitas kerja yang kurang layak? Kapan API meningkatkan kompetensi kerja bagi pekerja dibidang tekstil?

  5. Untuk meningkatkan kompeten tenaga kerja tekstil dan garmen Indonesia, semua komponen di Republik ini wajib, salah satunya API sebagai organisasi yang mewadahi perusahaan TPT nasional.

    Sebagai informasi, telah banyak yang dilakukan oleh API untuk peningkatan kompeten pekerja TPT nasional, baik yang dilakukan sendiri maupun bekerjasama dengan instansi pemerintah dan swasta, salah satunya tahun 1996 pada LaSalle College International.

  6. Ironis jika mengkaitkan industri tekstil dan pendidikan tekstil semua sama-sama kolaps bayangkan minat calon siswa untuk masuk ke pendidikan tekstil dan garmen sangat minim sehingga banyak lembaga pendidikan tekstil yang hidup segan mati tak mau.
    menurut saya hal ini dikarenakan pemberitaan seputar tekstil yang selalu badnews dan penghargaan terhadap ternaga kerja terdidik juga kurang bagus tidak sebanding dengan invest biaya pendidikannya. mungkin murid lasale cenderung menjadi desainer daripada masuk ke pabrik . perlu difikir bagaimana me link and match kan pendidikan tektil dan industri tekstil biar tidak sama-sama terpuruk

  7. Untuk link and match (usulannya secara berurutan), pertama pada pendidikan dengan melakukan spot analisis, misalnya untuk filosofi dan teori pada universitas/akademi dan untuk praktisnya pada
    pada balai latihan kerja (BLK) atau sekolah kejuruan (seperti LaSalle atau Esmod atau yang sejenisnya).
    Kedua, fokuskan pengembangannya, misalnya up grading guru/tenaga pengajarnya; metode belajar dikombinasikan dengan magang (magang disini diberlakukan untuk guru dan siswa); dan information service khusus untuk mengetahui perkembangan/tred melalui internet.
    Ketiga, untuk pelaksanaan pertama dan kedua kontribusinya adalah: pemerintah, melakukan up grade guru/tenaga pengajar; metode belajar bekerjasama dengan industri; untuk information dapat diperoleh melalui kerjasama industri dan sekolah.

  8. Kawasan industri terpadu atau klaster industri memang gagasan yang bagus. Hanya saja untuk mewujudkan itu perlu good governance di tingkat policy maker-nya. Mengingat antara Deperin dan perdagangan, Dep.koperasi dan UKM dan BI saja selama ini menciptakan kebijakan yang berseberangan. Sementara untuk menumbuhkan plasma-inti di sektor TPT sangat perlu dukungan pemerintah. Setidaknya sustainable development dapat di”policy”kan, begitu.

  9. setuju dan untuk itu perlu koordinasi antar departemen, namun koordinasi tersebut untuk di Indonesia sangat mahal sekali

  10. Pak, mau nanya kira-kira berapa kontribusi biaya pengolahan limbah terhadap total biaya produksi industri tekstil. sekian terima kasih

    • pak,
      …sepengetahuan saya biaya produksi di industri TPT (fiber making, spinning, weaving & knitting, dyeing/printing/finishing, garment), strukturnya terdiri dan rata2nya: raw material & supporting 55% – 58%, energy (electricity, coal, gas, MFO) 1,5% – 25%, labour 6% – 27,5%, depreciation 1,5% – 6%, interest 2,5% – 6,5%, administration & marketing 3% – 10,5%…..
      …sedangkan untuk pengolahan limbah saat ini merupakan tambahan biaya dan menjadi rantai cost produksi karena ada yang wajib untuk dipenuhi oleh industri TPT nasional, yaitu: izin pengelolaan, izin pemanfaatan, izin pengangkutan…ribet dan tidak jelas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s